Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

Disabilitas Tak Membuatku Berhenti Melangkah....!!!
dengan segenap cinta.... aku menulis dari apa yang kulihat, kudengar dan kurasakan

Blog EntryJun 7, '10 11:32 AM
for everyone
Sebenarnya ini tulisan lama, hehe niatnya mo ikutan lombanya Anazkia tapi karena waktunya dah mepet alhasil cuman ngopas karya lama yang sedikit kuedit. Semoga bermanfaat dan semoga belum terlambat. Terimakasih sebelumnya dan maaf yah jika garing......



Kontes Blog Berbagi Kisah Sejati

Disponsori oleh denaihati.com

http://denaihati.com/


Waktu berputar dan terus berputar. Kuikuti dan kujajaki setiap perputaran detik menuju menit lalu menuju jam hingga hari berganti pelan-pelan. Kunikmati hidup dengan berjuta rasa, kurasa itu hal yang wajar hanya saja aku sedikit heran dengan apa yang tengah terjadi padaku. Entah heran ini karena apa, untuk siapa dan harus bagaimana??

Sejuta tanya mengumam dalam relung hatiku. Berkecamuk, saling berlomba seakan hendak memberontak namun daya pun tiada. Seolah ingin berteriak, namun rongga tenggorokan kering dan kerontang. Sesekali ingin merintih, namun terlintas dalam pikir "untuk apa merintih? Bukankah hidup di dunia hanya sesaat? Sungguh sempit waktu untuk merintih apabila aku secara pribadi mau menyadari bahwa banyak ruang untuk bergerak, banyak waktu untuk merebah, dan banyak cara untuk aku terus hidup.

Syukur-syukur bila aku mampu memetik bintang di langit ketika malam menjelang atau meraup kehangatan sang surya ketika mentari terik dengan cahaya CintaNYA. Sungguh indah kan hidup??

Rasa adalah rasa. Kita bisa mempermainkan rasa sesuka dan semau kita. Ingin menangis, tinggal menangis. Ingin tertawa, yah tertawalah. Atau sesekali ingin bertingkah gila, silahkan. Atau hanya tetap ingin diam?? Tak ada yang melarang. Bagi ku kebahagiaanku berada di kedua pundak ku bukan pada pundak orang lain dimana aku bisa seenaknya saja bersandar tanpa berpikir untuk apa aku berada di dunia?? Bukankah aku berada di dunia ini akhirnya juga akan pergi. Selama aku masih bisa tinggal, maka aku memilih untuk tinggal. Dan kelak  jika masa ku tinggal telah habis maka tanpa bisa kuelak, aku akan tetap pergi.

Dan kau atau pun kalian, tiada satu pun mampu menghentikan langkahku. Malam ini ada sedikit rasaku ingin berbagi tentang kisah hati. Lebih tepatnya tentang sebuah kejujuran hati yang selama ini kualami dan selalu kupendam ke dasaran samudra jiwaku yang keruh. Hitam dan pekat dalam setiap pandangan dalam tatapan mata senduku. Aku terdiam dalam fana yang berkoyak antara nyata dengan maya. Aku pun terombang ambing diantara gelombang pasangnya hingga buih-buih lautan derita dan bahagia pun turut terkoyak oleh ombak yang kerap menghentak pada setiap kaki berpijak. Pasir putih ini tak lagi memberiku jejak tuk kujadikan sebuah petuah bijak.

Sesekali aku terdampar diatas dataran berkerikil tajam dan sesekali aku terhanyut diantara buaian bidadari-bidadari mimpi. Bukan ingin ku untuk bercerita karena aku memang bukan tukang dongeng yang mahir membacakan sebuah cerita. Bukan maksudku pula untuk menuliskan kisah ini karena aku bukanlah penulis tersohor di dunia ini. Tapi aku hanya ingin berbagi.

 Beberapa bulan ini aku mengalami yang namanya patah hati. Pasti hampir semua orang pernah mengalami yang namanya patah hati. Dan itu amat menyakitkan bukan? Begitu juga yang kurasakan. Begitu pahit seperti seduhan secangkir kopi kental yang mampu menyengatkan aroma khas menuju segumpalan otak di kepala melalui kedua lubang hidung walau telah kucoba mencampurkan secangkir kopi tanpa gula itu dengan seduhan madu, tetap pahit terasa di ujung lidah hingga ke dalam lidah yang paling dangkal. Ya...Aku lebih memilih madu daripada gula, bagiku madu lebih murni terasa di setiap desiran aliran nadi. Yang tanpa kusadari banyak madu palsu berkeliaran disana sini. Aku tetap menikmati.

Keretakan hati ini lama-lama membesar dan semakin menampakkan bahwa kini telah benar-benar patah menjadi dua kepingan. Kepingan yang tak bisa lagi disambung menjadi bagian baru, kecuali sedikit menambalnya dengan hal lain. Setidaknya dengan hati lain. Hmmmm....tapi itu tak mudah untuk dilakukan, semua perlu proses dan masa bukan? Banyak memang yang menawarkan diri untuk meminjamkan hatinya atau ada pula yang ingin memberikan hatinya untuk menggantikan hatiku. Senang plus bangga diriku ini karena masih ada yang perhatian saat kuterjatuh dalam lubang tapi kalau tak pikir-pikir kayak simpan pinjam uang saja ya atau kayak makanan yang bisa dibagi-bagikan. Kujelaskan pada mereka dengan kerendahan hatiku. Tak semudah itu kawan....dan pahamilah bahwa patah hati ini bukanlah sekedar patah hati biasa.

Disini bukanlah sembarang patah hati, bukan karena kehilangan atau putus dengan seseorang yang menjadi kekasihku. Bukan itu....patah hati ini karena aku sendiri yang mematahkannya. unlove

Saat keretakan mulai tergurat jelas disetiap lekukan jalan hidupku, aku mematahkannya dengan menusukkan duri-duri mawar beracun ke dalam jantung hatiku. Mungkin orang akan menilaiku sadis. Dan aku tak kan mengatakan bahwa semua yang kulakukan di luar kendaliku. Tidak demikian, aku bukanlah seorang pengecut yang mudah lepas dan lari dari masalah. Akulah pembuat masalah maka akulah yang harus mengakhiri masalah. Bukankah bentuk ukiran dalam kehidupan adalah kita yang memahatnya dan bukan orang lain? Walaupun campur tangan pun tak lekang dalam waktu. Dan pada akhirnya kupilih dengan jalan seperti ini, kuyakin biarlah begini adanya toh semua demi ”mereka”. Hingga sempat aku bersandar pada lubang neraka dan sesekali pula berharap tuk  menjumpai lubang surga.

Kalau boleh jujur, aku sendiri tak tahu apa itu lubang neraka dan apa itu lubang surga. Setiap orang memang berhak untuk memilih antara dua lubang itu dan jika aku harus memilih, aku belum tahu jawabannya karena aku tak begitu mengenalnya. Menurut kalian lubang mana yang harus kupilih? Jika pada setiap harinya aku berkawankan dusta, bermahkotakan kesombongan jiwa, berhiaskan batu dendam membara, bersolekkan kecantikan kebencian semata, bercanda ria dengan lidah kepalsuan, lalu aku bergumul pada nafsu birahi dunia.

Aku merasa kemenangan sudah ada di depan mata. Tapi ada yang mengganjal di salah satu sudut ruang hatiku. Ini bukanlah aku. Ini sekedar persinggahan bayangan kelam. Aku pun begah dan merasa kalah. Namun tak berusaha menyerah. Sekali lagi kutekankan dalam jiwa bahwa ini bukanlah aku. Tapi entah siapa...

Berkali-kali aku mencoba mematahkan hati ku ini. Awalnya memang gagal karena aku masih ingin menikmati kehidupan tapi sesekali aku beranggapan bukan kehidupan seperti ini yang kuharapkan. Aku hanya ingin berada dalam kedamaian, ketenangan dan sentuhan-sentuhan kasih dengan senandung lagu-lagu cinta. Aku mencoba mencari dan mencarinya di setiap relung-relung jiwa, yang kutemukan hanya sebuah kehampaan tertawa ceria. ”Hahahaha..... ah tawa itu seperti anjing yang mengonggong saja. Bukan ini yang kumau!!

Akupun berlari menuju dunia fana, dunia dimana penuh dengan khayalan-khayalan senja. Siapa sih yang ngak suka dengan langit senja? Cahaya senja, indah mempesona pandangan mata. Romantis diantara senandung-senandung doa yang terlantun lewat nada. Dimana pada hamparan langit tersibak cahaya surga berwarna merah terbiaskan kegelapan malam yang segera kan datang. Dengan bulatan sang surya yang menghampiri pinggir pantai yang tak berujung. Seperti hidup ini yang tiada ujung akhirnya sebelum kematian menjemput masa. Kematian pun bukanlah akhir dari segalanya tapi adalah awal dimana kita menjumpa siapa diri kita sebenarnya.

Terlalu lama aku tenggelam dalam dunia fana. Aku lelah...sepanjang hari yang ada hanyalah angan-angan yang berlayar melintasi lamunan. Aku kian terombang-ambing tanpa kepastian dan kenyataan kehidupan. Tak ada satupun yang mampu kugenggam. Bahkan pasir putih yang menjadi noda dalam hidupku pun tak mampu kusentuh. Apalagi dirimu yang kerap menghantuiku, sesekali saja tak sanggup kau kubelai oleh kerinduan sanubariku. Merindukanmu bagaikan merindukan menyentuh segumpalan awan yang berarak pulang. Apalagi untuk berani memintamu datang padaku, laksana bulan purnama yang ingin berpelukan dengan mentari pagi. Sungguh tak kan pernah menjadi kenyataan dalam hidup ku ini.

Sejenak aku terhenti pada ujung aspal yang keras menghantam pijakan kaki. Aku mencoba mengatur setiap alunan denyut nadi, agar lebih teresapi tiap aliran darah membanjiri diri. Satu persatu terlintas bayangan masa lalu. Senyum kehangatan sang bunda melegakan rongga dada saat bayangan wajahnya perlahan melintasi pandangan mata nan hampa. Sekat-sekat pada kerongkonganku yang mulai mengering tanpa doa kini kembali basah oleh sejuta petuahnya yang sempat terhempas dari jiwa.

Maafkan aku bunda, anakmu ini kian tak mendewasa saat mencoba memahami kepergianmu yang terlalu dini dari pelukku. Mencoba menutup rapat-rapat pintu kerinduanku padamu apalagi tuk menyeka airmata, aku memilih menutup setiap celah pada kelopak mata agar genangannya tak membasahi pipi. Aku menghempaskan diri pada kebencianku sendiri hingga melupa pada sebuah wajah, yaitu wajahmu yang amat anggun selaksa bidadari yang turun saat sang fajar tersenyum cerah. Aku takut menatap cahaya masa depan hingga kuenggan berjumpa sang mentari itu padahal itu adalah dirimu.

Sesaat kemudian aku kembali melangkah. Aku sadar, terlalu lama aku tenggelam pada khayalan senja, menjadikanku seperti anak kucing yang mengeong mencari induknya yang sudah lama pergi. Aku bukan kucing apalagi anjing. Yang hanya bisa menggonggong ketika terjatuh pada lubang kesalahan. Aku harus bisa berdiri dengan kedua kakiku ini. Ini tekad dalam hati sebelum akhirnya aku mematahkan hatiku ini.

Mematahkan hati. Dalam arti aku mematahkan segala kehidupan yang membawaku pada kesesatan jalan. Aku tak ingin memasuki lubang neraka karena kini aku sedikit telah mengerti apa makna lubang itu. Kata sahabat, aku harus memilih lubang surga. Dimana nantinya disana penuh dengan minuman segar beraroma manis dengan seduhan madu yang benar-benar murni madu Tuhan. Dan diantaranya tumbuh  buah-buahan segar serta dedaunan hijau yang menenangkan samudera jiwa. Bahkan adanya kehidupan yang lebih kekal dan abadi bersama pasangan jiwa yang telah terpilih diatas jalan Tuhan, beralunkan lagu-lagu surga hingga senandung doa yang terlahir tulus dari kesucian hati manusia.

Sahabat. Dialah yang menjadi pelabuhan dalam keterasingan jiwaku saat terdamparku pada dataran hampa penuh duri-duri tajam. Dialah yang menjadi panutan ragaku saat kelelahan mengagahi sekujur tubuh kaku ini hingga kembali kutemukan kehangatan cinta yang mampu meluluhlantakkan segala kemunafikan. Dialah yang menjadi arah bagi cahaya ku yang sempat redup oleh keangkuhan hitamnya jiwaku ketika aku merasa hebat berdiri diatas kesombongan dan kini aku mengerti aku hidup di dunia ini tidaklah sendiri.

Ada Tuhan di sepanjang hari aku meniti pelangi. Ada Tuhan di setiap jeritan hati. Ada Tuhan dalam hembusan nafasku. Ada Tuhan pada pandangan mataku walaupun keruh oleh kegalauan. Ada Tuhan dalam sepanjang jejak-jejak kakiku menampak di bumi. Ada Tuhan dalam genggaman pasir putih di tanganku yang sewaktu-waktu berjatuhan butiran-butiran pasirnya dari celah-celah jemariku. Ada Tuhan yang selalu setia menjagaku dalam menyusuri telaga asa ku. Satu asa, dua asa hingga seribu asa harus selalu kujaga meski harus kutelusuri karang terjal berliku dan lumpur-lumpur noda yang mengoda dosa.

Tuhan. Aku mengenalnya lantaran seorang sahabat itu. Awal hidup aku memang sudah tahu ada Tuhan di relung jiwaku. Tapi aku tak memahami akan makna kehadiranNYA di sepanjang hidupku. Aku tak menyadari akan makna setiap jimpitan anugerahNYA yang terurai indah di mimpiku. Aku tak mengerti arti kehadiranNYA disetiap malam-malamku terbangun dari tidurku. Yang seharusnya kusujudkan diri di tengah suara-suara merdu angin malam. Aku malah terjaga sebagai manusia penjajah nafsu dunia. Aku pun terlena oleh segala kenikmatannya.

Sahabat. Kau pernah ajarkanku sepatah kata tentang hidup. Hanya sepatah kata saja pun kau mampu membuka mata hatiku bahkan pemikiran-pemikiran dalam beribu-ribu urat otakku. Aku memang dungu. Otak ini tak pernah kupakai apalagi kuisi dengan cinta, yang ada justru otak ini penuh dengan kotoran. Sesak oleh sejuta kebodohanku. Engkau hadir dengan satu senyum lalu mencairlah segala kehitaman dan kebusukan dalam otakku.

Cucilah langit lukamu

Dengan kerlipan bintang-bintang wudlu

Dan bila kau tak ingin berkata

Maka bacalah kalam-kalam NYA

Dan jika ingin di sayang oleh Allah

Maka dekatilah DIA

Senyum. Betapa berartinya senyummu bagiku meski kehadiranmu selalu tersembunyi dibalik tirai misteri. Engkau tak hadir lewat mimpi memang tapi engkau hadir diantara maya-maya yang bergelantungan dalam harapan. Kugenggam harapan itu dan tak kan pernah kulepaskan. Kau benar, ketika kita ingin berada di anak tangga yang ke seratus aku harus menampakkan kaki ku ini terlebih dulu pada anak tangga yang pertama. Segala kehidupan akan lebih indah dan sempurna bila kita menjalani dengan keikhlasan jiwa. Meskipun tak ada yang sempurna di dunia, layaknya diriku yang tak sempurna dalam pandangan kasat mata.

Tapi cobalah mencerna dan mengenalku lewat kata-kata karena aku tak mampu tuk bicara, sekedar berkata lewat keheningan malam diantara seribu kata-kata yang kuurai menjadi sebait dua bait hingga berbait-bait puisi. Pahamilah aku lewat puisi, yang pasti kuselipkan sekulum senyum dari hati. Hatiku kini memang tak lagi retak tapi telah patah. Namun kucoba tuk tak kan menyerah pada masa yang selalu berubah dan pada waktu yang tak mampu kuhentikan setiap detiknya. Aku harus terus melangkah. Kutenggok sejenak jejak lalu, masih ada asa menggebu yang belum sempat kugubah. Kuyakinkan lebih dalam di hati, aku harus berubah.

Tuhan, bimbinglah agar setiap langkah tak lagi goyah ketika suatu hari nanti kuterjebak pada kedua lubang itu kembali. Aku sungguh tak ingin terjatuh pada lubang yang sama dimana pernah membuatku larut dalam dunia nan gelisah. Memang aku harus tegar dan harus berdiri dengan kedua kaki ini tapi setidaknya aku hanya manusia dengan sejuta kelemahan dihadapanMU. Sebatas titik dalam kata, aku belum sanggup menguntai makna. Engkau yang mengetahui isi hatiku, isi jiwaku hingga misteri itu hanya Engkau yang mengetahui. Sekiranya KAU mengerti karena memang Engkau Maha Mengerti, kubutuh sandaran Tuhan bukan sebagai tempatku mengeluh tapi tuk sekedar menjadi jeweran telingaku ketika suara batinku terpojok dalam keluh.

Dan kau sahabat tiada kata yang sanggup kuurai untukmu apalagi sebentuk hati dengan cinta yang terselip dalam setiap kelopak bunga mawar merah terkirim untukmu,  belum bisa kutemukan kata dan belum sanggup kuresapi cinta, maka maafkanlah aku dan ujung kata ku sebatas kata terimakasih....satu pintaku, jangan dulu hentikan senyum tulus mu itu hingga akhirnya kau pergi melupakanku. Disini, aku masih memerlukanmu tuk mengajariku berdiri sebelum aku mampu merangkak, berjalan hingga berlari mengejar bintang dalam kehangatan langit malam. Bukankah bintang tak pernah bersembunyi di balik awan? Hanya sesekali saja tenggelam diantara mendung menghitam kelam. Tak apalah mungkin sang bintang telah lelah menemaniku. Tapi kuharap, bintang itu bukan dirimu kawan....



Tepian Kota Mimpi, 080309//04.00’

 

Revisi pada 070610//21.00’

 

 


14 CommentsChronological   Reverse   Threaded
smallnote wrote on Jun 7, '10
Sedooooooooooooot
larass wrote on Jun 7, '10
Sedooooooooooooot
Aveeeeeeeeeeeeeeeee.....................
asasayang wrote on Jun 7, '10
waaaaaaaahhh. mepet bgt ma deadllinenya
nurinautami wrote on Jun 7, '10
^_^
Banyak dan beragam cerita ketika patah hati hikz...

Keep spirit mba (sama ding aku juga)

*ditunggu loh sama mba anaz ceritanya mba laras :D
rudal2008 wrote on Jun 7, '10
Doaku selalu menyertai distiap langkah hidupmu.
Wonderful share I like it somuch.
moestoain wrote on Jun 7, '10
SABUDI (sastra budaya indonesia)
mari kita jaga bersama!
itapage wrote on Jun 7, '10
<IipSmiley>
dear larass, hadiahnya apa ?
anazkia wrote on Jun 7, '10
Mbak, linknya sudah tercantum. Tolong lihat didaftar peserta yah... :)
adearin wrote on Jun 7, '10
mb, smg lolos ya naskahnya...
saturindu wrote on Jun 7, '10
cobaan2 akan membuat hati kita semakin kuat
mari terus berusaha...dan jangan gampang putus asa
boemisayekti wrote on Jun 8, '10
semoga bintang itu tak pudar cahyanya, tak pernah lelah ... bagitu pula yang ada di hatimu... :)


moga2 sukses ya lombanya :)
jalankejayaan wrote on Jun 8, '10
suka dengan kata2nya tersusun indah... :))
elok46 wrote on Jun 8, '10
tetap semangat ya ras
larass wrote on Jun 10, '10
terimaksih yang sudah membaca tulisan ini, ini hanya tulisan lama yang ku copas. Maaf yah karena keterbatasan waktuku, aku belum bisa membalas reply an semua kawan.....Salam Larassati!!!
Add a Comment
   

Larassati !










AKU
by Chairil Anwar
Kalau sampai waktu ku
Ku mau tak seorang kan merayuku
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak peduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi